Sabtu, 18 November 2017

Menjamah Ingatan Kala Sastra Terjamah


Pepatah lama mengatakan, "Everybody changes. People change." Memang benar, dunia statis, manusia tidak stagnan hanya pada satu kondisi tertentu. Segalanya berubah. Pun, kegemaran dan selera.

Dulu sekali, saya tidak suka membaca. Bacaan saya hanya sebatas tulisan yang tertera pada baliho atau tulisan-tulisan semacam "Putus cinta sudah biasa, putus rem modar kita." pada pantat truk-truk pengangkut pasir di jalan raya. Tak ada satu pun buku yang memikat hati saya. Buku pelajaran tidak pernah saya baca kecuali jika hendak ulangan saja, itu pun kalau ingat. Kala itu, saya berpikir bahwa kegiatan membaca adalah hal yang teramat membosankan. Saya lebih memilih untuk bermain 'engklek' hingga kaki kesemutan dibandingkan membaca sebuah buku. Namun, beberapa orang mengubah hidup saya.


Saat itu saya duduk di bangku kelas 8. Saya berkawan dengan orang-orang pintar yang senang berimajinasi. Setiap pagi, rekan-rekan pintar saya saling berbalas ucapan yang tak saya pahami. Alohomora, expelliarmus, expecto patronum, dan berbagai macam kata dan frasa aneh lainnya. Seseorang mengaku titisan Krum. Seorang yang lain ingin menjelma tawanan Azkaban yang sabar meski dilanda fitnah dan dementor selalu berusaha keras untuk mengisap kebahagiaan dari dalam dirinya. Setelah saya telusuri, kawan-kawan saya rupanya adalah penggemar tulisan Rowling. Yang terbesit dalam benak saya saat itu hanya satu hal, saya ingin memahami. Terpaculah saya untuk mencoba mencicipi karya fenomenal tersebut setelah beberapa kali menolak rekomendasi rekan-rekan pintar saya itu. Sejak saat itu, membaca kisah Potter dan Dia yang Namanya Tidak Boleh Disebut menjadi candu dalam diri saya. Saya melahap buku-buku Rowling dengan cepat. Obsesi saya masih menggebu. Saya menuliskan setiap tokoh beserta karakternya masing-masing, mantra, nama makanan juga tempat yang dijadikan latar pada sebuah buku catatan yang kemudian saya baca berulang kali hingga hapal. Pengetahuan saya akan Hogwarts meningkat pesat. Tujuan saya memahami sudah tercapai. Saya bisa ikut melemparkan mantra pada rekan-rekan pintar saya dengan percaya diri. Saya sendiri, mengaku-ngaku sebagai Lovegood dan Granger sekaligus hehe. (Hai, rekan-rekan pintar saya, jika kalian membaca ini, pahamilah bahwa kalian sudah mengubah hidup saya. Ozy, Berry, Kodrat dan Galih, kalian mengenalkan saya pada karya Rowling juga pada buku fiksi untuk pertama kali. Saya (masih) gemar membaca hingga saat ini, berkat kalian. Semoga kalian pun tak sebatas menjamah karya Rowling saja. Oh tentunya tidak, saya percaya.)

Memasuki bangku SMA, saya mengalami masa puber. Menyukai lawan jenis, mengagumi kakak kelas, ingin dikenal laiknya siswi pada umumnya. Nahas, saya tak mampu lampiaskan. Saya tak cukup daya untuk hal-hal semacam itu. Satu-satunya cara yang bisa saya tempuh adalah membaca berbagai judul novel bergenre teenlit (fiksi remaja) yang pada saat itu mampu memahami hati saya. Summer Breeze karya Orizuka adalah teenlit pertama yang saya baca. Membaca teenlit saat itu benar-benar menguatkan saya. Saya menjumpai tokoh yang bernasib sama, misalnya. Saya merasa bahwa saya tak sendirian. Pada era itu, novel-novel tipis dengan tokoh seusia SMA atau kuliah merupakan bacaan yang biasa saya lahap. Bertambah lah lagi genre yang saya baca.

Cukup jengah dengan teenlit saat usia saya memasuki kepala dua, saya mencoba membaca bacaan jenis baru. Saya tak melepas genre roman, tetapi saya menyesuaikan bacaan dengan usia saya pada saat itu. Saya merasa bahwa membaca kisah remaja SMA tidak lagi relevan untuk saya. Kendati, sesekali saya masih memburu karya baru Orizuka. Saya pun mulai membaca roman kontemporer lokal dengan kisah yang lebih kompleks. Forgiven karya Morra Quatro dan Éclair karya Prisca Primasari adalah karya pertama yang menghantarkan saya membaca judul-judul lain dengan genre serupa. Berpetualang dengan buku-buku semacam ini semakin memuaskan saya. Saya semakin cinta membaca. Bagaimana tidak, saya dimanjakan dengan karya-karya sederhana namun elegan gubahan novelis-novelis kontemporer muda Indonesia. Prisca Primasari, Morra Quatro, Windry Ramadhina, dan masih banyak lagi. Saat itu saya mengikuti Indonesia Romance Reading Challenge di blog dan mengharuskan saya membaca karya-karya roman dalam negeri. Sekitar 5 sampai 15 buku roman kontemporer lokal saya lahap dalam sebulan, selama satu tahun penuh. Fantastic, bukan? 

Era IRRC berakhir, saya menjamah roman kontemporer luar yang diterjemahkan. Adalah The Fault in Our Stars karya John Green yang menggiring saya mencicipi karya terjemahan lain. Hoover, Backman, Han adalah segelintir nama yang tak luput saya cicipi karyanya. Sudah saya katakan, manusia itu stagnan. Manusia akan selalu mencari tahu hal-hal baru. Seperti diri saya ini. Tak hanya keinginan dari dalam diri, lingkungan pun memiliki andil yang begitu dahsyat. Ia memengaruhi saya secara membabi buta. Saya berkawan dengan orang-orang yang senang membaca novel detektif. Maka, ketika mereka merekomendasikan kisah Holmes atau Poirot dalam mengungkap kasus pembunuhan, saya pun mencobanya. Tak hanya itu, saya pun bersahabat dengan orang pintar yang dibesarkan oleh karya-karya Gibran, Al Ghazali dan Gaarder. Saat itu pula saya mencoba mencicipi filsafat yang dituangkan dalam kisah Sophie dan Anna. 

Beberapa rekan saya heran dengan bacaan saya yang kian berubah dari waktu ke waktu. Deta dengan label 'pembaca roman kontemporer' yang awalnya diragukan untuk bisa memahami bacaan dengan genre lain, kini menghabiskan banyak waktunya untuk membaca karya-karya sastra dan kisah-kisah klasik. Dulu sekali, saya berpikir bahwa sastra itu terlalu eksklusif. Saya, yang bukan tipikal pemikir pun merasa underestimate pada diri saya sendiri, khawatir tak mampu memahami dan lain sebagainya. Namun, setelah berkenalan dengan dua karya Sandi Firly, 'Lampau' dan 'Catatan Ayah tentang Cintanya kepada Ibu', saya merasa jiwa saya lebih dewasa. Saya lebih mampu memandang dunia dengan perspektif yang beragam. Seperti yang dikatakan orang-orang, sastra memang memanusiakan manusia. Kini, saya tengah menggemari karya klasik dan sastra. Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan menghantarkan saya mengagumi karya-karya Beliau yang lain. 

Sejujurnya saya tak pernah menutup diri. Saya mempersilakan diri saya sendiri untuk membaca bacaan dengan genre apa pun. Dan, saya sama sekali tak merasa ada keterpaksaan dalam diri saya. Saya senang melakukannya. Saya berkesimpulan, selain untuk memahami sekitar, membaca bertujuan untuk memuaskan diri sendiri. Tak pernah terbesit sedikit pun dalam benak saya, bahwa saya membaca untuk mendapat pengakuan sebagai orang berakal. Saya tak ingin dipandang sok pintar karena saya memang tidaklah pintar. Namun, saya ingin memahami sekitar. Saya ingin mengetahui banyak hal. Juga, ingin memuaskan diri sendiri. Tak merasa sepi, berkawan dengan aksara karena aksara membuat saya merasa dipahami. Hingga, saat ini, saya masih membaca berbagai macam genre bacaan. :)

Satu lagi yang terpenting, bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar. :)