Rabu, 16 Mei 2018

Jika dengan ibadah ritual semuanya selesai, di luar itu kita hanyalah ateis yang menempatkan ego dan pemikiran sendiri di atas segalanya.


Malam ini, saya teringat tokoh Madrim yang diperankan oleh Aming dalam film layar lebar garapan sutradara Hanung Bramantyo. Ia mengalami keputusasaan yang tak berujung. Memohon, tidak lagi ia lakukan. Sudah lelah, tampaknya. Beberapa kali harapnya kandas, kendati ia meminta dengan cara halus sampai cara yang lantang sekali pun. Tibalah ia pada posisi di mana dirinya menganggap Tuhan takkan lagi mengacuhkannya. Maka, dengan niat menggebu-gebu, dirinya menciptakan sebuah terobosan dengan harapan Tuhan hendak luluh. Ia menyisipkan ancaman dalam doanya. Dirinya mengancam jika Tuhan masih enggan menjawab do’anya, ia akan berpaling. Lantas, apa yang ia peroleh? Sesungguhnya ia tak mendapatkan apa pun. Tuhan dengan Rahmat-Nya, mengizinkan ia terus mengancam sesuai yang dirinya kehendaki. Kemudian, ia terombang-ambing dan tersesat.

Sejujurnya, saya pernah berada dalam posisi Madrim. Di mana Tuhan tak coba mencegah saat saya berbuat khilaf kendati setiap malam saya berdoa dengan air mata berurai. Doa saya hanyalah satu, “Ihdinasshiraathal mustaqiim. Tunjukanlah kami jalan yang lurus.” Saya hanya ingin satu langkah lebih dekat dengan-Nya. Namun, doa-doa saya seakan menguap tak jelas arahnya. Saya berbuat khilaf, Tuhan biarkan. Saya berdosa, Tuhan tak beri peringatan. Saya merasa putus asa sampai saya berada pada titik di mana saya teramat marah pada Tuhan.

 
Saya menangis dalam salat fardu saya, menyalahkan Tuhan yang bahkan tak bisa saya tinggalkan sama sekali. Suatu malam, saya merasa bahwa beban ini sudah tak mampu saya tampung sendiri. Saya berkeluh kesah pada sahabat saya melalui pesan Whatsapp. Saya mengatakan segalanya. Mengenai doa saya, kekecewaan saya, dan jiwa saya yang dinaungi amarah. Alih-alih mendapat pembelaan, saya mendapat tamparan yang sangat keras malam itu. Sahabat saya berkata bahwa ilmu yang saya dapatkan dari sekian banyak buku bagus yang saya baca adalah nol besar. Saya tak mengaplikasikannya dalam hidup saya yang berantakan sebagai usaha untuk memperbaiki. Sahabat saya bilang, semua ilmu memiliki pangkal yang berujung pada Tuhan. Saya membaca tulisan Cak Nun, Rusdi Mathari, Gus Mus, dan essai-essai yang seharusnya mengarahkan saya pada kondisi spiritual yang lebih stabil atau bahkan meningkat, tetapi semua itu hanya sebuah kesia-siaan. Sahabat saya marah dan meminta saya untuk tidak menghubunginya. Hati saya sakit. Lagi-lagi, saya harus menangisi hal ini semalaman. Saat itu, saya masih berpikir bahwa hidup sangatlah tidak adil kepada saya.

Saya tak ingin melarutkan diri pada dendam. Saya memutuskan untuk menemui sahabat saya. Masih tergambar jelas kemarahan dalam raut wajahnya. Ia enggan menatap saya lebih dari dua detik saat pertama kali kami bertemu. Akhirnya, kami memiliki kesempatan megobrol secara langsung, tetapi saya tak bisa berkata-kata pada saat itu. Ingin menangis pun tak bisa. Sahabat saya mengatakan bahwa dirinya tak ingin menemani saya larut dalam hal-hal kelam, tetapi ingin mengangkat saya dan membebaskan diri saya dari tempat yang gelap di mana hanya ada amarah dan kebencian tak berujung.

Menurut sahabat saya, saya terbelenggu dalam paham yang salah. Ihdinasshiraathal mustaqiim tak hanya selesai ketika saya melaksanakan ibadah ritual kemudian memohon, lalu setelahnya saya melepaskan diri begitu saja, tak menyertakan Tuhan dalam apa pun, seakan saya bisa menangani setiap hal dengan baik tanpa bantuan Tuhan. Termasuk, dengan sombongnya saya merasa mampu mengendalikan ego dan hawa nafsu hanya karena saya melaksanakan ibadah ritual. Begitu sempitnya pemikiran saya. Sahabat saya mengatakan, jika saya bisa dengan mudah menaruh amarah dan dendam pada Tuhan padahal justru saya yang tak melakukan usaha apa pun selain berdoa agar ditunjukkan jalan yang lurus, maka saya berada dalam kesesatan. Ada banyak nikmat Tuhan yang luput untuk saya syukuri dan saya hanya terfokus pada kekhilafan yang saya ciptakan ketika saya sendiri tak mencoba menahan diri untuk berbuat khilaf. Lantas, Tuhan dengan kasih-Nya, membiarkan saya. Saya mengambil hak Tuhan secara paksa. Padahal, saya ini hanya pemain dalam opera-Nya. 

Sejujurnya, saya malu terhadap kolom agama pada kartu kependudukan saya. Saya ini muslim hanya ketika saya melakukan ibadah ritual, di luar itu, saya atheis karena selalu menomorsatukan ego dan perasaan saya terlebih rasa sakit hati saya yang tak beralasan. Seandainya saat itu saya mampu berpikir lebih. Saya memohon untuk di dekatkan, tetapi saya sendiri yang menciptakan jarak. Saya meminta untuk direngkuh, tetapi saya sendiri yang menjauh. Permasalahan saya ini cukup rumit. Namun, saya bukanlah keledai betina. Saya mencoba memperbaiki hidup saya yang serampangan. Saya mencoba memaknai mengapa Tuhan menempatkan otak di atas sementara hati di bawah sesuai dengan yang dikatakan oleh sahabat saya. Kini, saya menyadari bahwa Tuhan teramat baik terhadap saya. Tuhan memberi penyelesaian di waktu yang sangat tepat di mana saya bisa memahami dan menyusun fragmen-fragmen yang tercecer. Saya tak ingin hanya menyembah Illah saat beribadah ritual saja, lebih dari itu, saya ingin menyerkatakan Rabb dalam setiap perkara dan segala hal yang berkaitan dengan hidup dan mati saya. Kini, saya menyadari satu hal bahwa saya bukanlah siapa-siapa tanpa diri-Nya. 

PS: Terima kasih tak terhingga kepada sahabat saya, untuk sore yang penuh dengan emosi, mau merengkuh saya dan mengangkat saya kembali untuk mencintai Dia yang lebih dekat dengan saya dibandingkan saya dengan diri saya sendiri. Semoga kebahagiaan dan rahmat Allah selalu menyertaimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar. :)