Rabu, 12 Agustus 2020

Nilai Spiritualitas yang Tersembunyi di Balik Aktivitas 'Fangirling'


Salah satu hal yang kurang menyenangkan ketika menjadi seorang fangirl idol Korea adalah bertebarannya pesan dengan embel-embel ‘sekadar mengingatkan’ yang tak jarang hanya melihat dari satu perspektif semata, kemudian menyamaratakan dampak dari asumsi yang tidak utuh.

Pengalaman mendapat pengingat tentu bukan hal yang asing lagi bagi saya yang telah menjadi seorang fangirl idol Korea sejak 2011. Dari mulai pesan bahaya zinah mata, hingga pesan berisi gambaran kehidupan yang sia-sia karena lebih mengenal idola Korea dibandingkan Khulafa ur Rashidun sehingga disebutkan tak akan mendapat safaat Rasul di akhirat kelak pun pernah saya dapatkan.
Saya tak pernah memberikan komentar apa pun. Seperti petuah Cak Nun, rasanya akan terasa sangat sulit bagi saya untuk menjelaskan rasa asin pada mereka yang tak pernah mengecap garam sama sekali.

Namun, di balik pesan dengan embel-embel ‘sekadar mengingatkan’ yang saya dapatkan selama ini, saya pun menemukan sisi lain dari aktivitas fangirling. Sisi yang mampu menyeret saya untuk melihat aspek spiritualitas yang tersembunyi.
 
Saya pernah bertanya dengan serius kepada sahabat saya yang lebih dulu mengidolakan BTS mengenai keuntungan yang ia peroleh selama menjadi Army (sebutan untuk fans BTS). Dirinya mengungkapkan bahwa aktivitas fangirling yang selama ini ia lakukan, rupanya telah menyelamatkan jiwanya dari kondisi separah-parahnya patah hati.
 
Ia percaya bahwa hal-hal baik tidak hanya didapatkannya melalui ibadah ritual semata. Tuhan memberikan perantara melalui apa pun dan siapa pun. Fangirling dan BTS adalah dua hal yang mampu membawanya lebih mendekat kepada Tuhan.
 
Satu hal yang saya garis bawahi dari obrolan kami adalah saat dirinya berkata, “Sudah menjadi apa aku sekarang seandainya aku tak mengenal BTS? Mungkin aku bisa gila. Allah sangat baik. Kini, saat aku melihat BTS, aku akan terus mengingat kejadian itu, rasa syukur dan terima kasihku akan selalu bertambah di setiap harinya. “
 
Tak jauh berbeda darinya, saya sebagai seseorang yang memiliki kemelut dengan masalah kepercayaan diri, merasa sangat bersyukur telah mengenal BTS dalam hidup saya. Ungkapan ‘Love Yourself’ dan “Speak Yourself” yang mereka kampanyekan melalui album dan komponen lain dan bahkan pernah mereka ungkapkan saat berpidato pada sidang PBB, membuat saya berusaha untuk lebih mencintai diri saya sendiri dan selalu menjadi berani untuk hal-hal yang saya rasa baik.
 
Saat menonton sinema ‘Bring the Soul’ di bioskop pada Agustus tahun lalu, RM (leader BTS) mengungkapkan bahwa anggota BTS selalu bekerja keras dan berusaha untuk mencintai apa pun dari diri mereka, entah itu kelebihan maupun kekurangan. “Love yourself. If you can’t, please use us, use BTS to love yourself,” ungkapnya. Entah seberapa deras air mata saya mengalir saat itu menyadari bahwa saya selalu luput dari rasa syukur kepada Tuhan YME.
 
Selain nilai spiritualitas seperti yang saya ungkapkan di atas, aktivitas fangirling nyatanya memberikan beberapa manfaat lain, seperti membunuh kejenuhan dan rasa sepi, memberikan rekomendasi tontonan serta buku bacaan dari idola yang kita sukai, atau sekadar mendapatkan penghiburan. Namun, jangan salah, pesan dengan embel-embel ‘sekadar pengingat’ pun rupanya tidak berhenti pada aspek agama saja, misalnya mengaitkan kejomloan dengan aktivitas fangirling ini.
 
Seorang fangirl jomlo pasti sudah jengah dengan ungkapan seperti, “Jangan kebanyakan nonton Korea, nanti standar kamu ketinggian, takut jomlo kelamaan.” atau “Cari yang real, takut tidak kesampaian.” Pegang kembali kata-kata Cak Nun, “Kita tak perlu bersusah payah menjelaskan bagaimana rasa asin pada mereka yang tidak pernah mengecap garam.” Hehehe.
 
Saya sepakat bahwa nilai-nilai baik bisa kita dapatkan dari mana saja dan dari siapa saja. Kita harus melihat segala sesuatunya dari berbagai sudut pandang secara objektif. Tidak peduli, apakah itu berasal dari ustaz/ustazah atau idol Korea, selama itu baik dan bisa membawa diri kita lebih mendekatkan diri pada Tuhan, maka saya rasa sah-sah saja untuk dilakoni selama tidak berlebihan.
 
Karena, semua pangkal ilmu ataupun hal yang ada di muka bumi akan selalu berujung pada Tuhan jika kita memaknainya dengan bijak. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang merugi.
 
Jadi, hal baik apa yang sudah kamu dapatkan selama menjadi seorang fangirl?  

XOXO.

1 komentar:

Silakan berkomentar. :)