Kala itu Ramadan hampir usai. Saya tidak pergi ke masjid untuk itikaf, tidak juga berusaha menamatkan bacaan Al-quran hingga mencapai surat ke-114. Jangan ditanya, ibadah ritual saya-seperti yang kau tahu-begitu lemah. Jangan kau tanya juga bagaimana ibadah sosial saya, karena sungguh sama lemahnya. Saya merasa sangat pilu karena rekan-rekan saya disibukkan dengan aktivitas sosial seakan sudah tidak peduli dengan masalah-masalah pribadi, sementara saya, dari waktu ke waktu masih saja disibukkan dengan kesedihan pribadi, merenungi nasib buruk pada diri sendiri, dan tenggelam dalam angan yang tidak pasti Celaka, sungguh merugi diri saya ini. Saya berulang kali membuat daftar resolusi, berulang kali pula saya mematahkannya. Kadang kala, saya membenci diri saya sendiri. Saya abai terhadap hal-hal sederhana, sehingga tak terasa, mereka bergumul membuat destruksi besar dalam hidup saya. Hal ini pula yang sempat dikatakan oleh mantan kekasih saya, dulu kala sebelum masehi. Selaras. Egois. Tidak memperhatikan hal-hal kecil, dan tak acuh. Ahhhh ... Tak tahu saja ia sebagaimana besarnya usaha saya. Ya Tuhan ... Saya meracau terlalu banyak di paragraf pembuka. Maafkan.
Selasa, 02 Juli 2019
Sabtu, 12 Januari 2019
A SOLEMN NEGAHOLIC LEADS US TO FEEL A CHRONIC PAIN
Kemarin, di sela-sela jam kerja, saya menyempatkan diri membaca sebuah artikel pada tabloid Intisari edisi 2016 (No. 651). Judulnya menarik, "Hindari Hidup Negatif ala Negaholic".Menurut artikel tersebut, istilah negaholic pertama kali dicetuskan oleh dr. Cherie Charter-Scott, seorang pakar perubahan perilaku yang berasal dari Nevada, AS. Negaholic sendiri berarti sikap, pikiran, cara pandang, perilaku, bahkan isi hati negatif yang sifatnya melemahkan kecenderungan positif seseorang. Cherie menegaskan bahwa penyebab utama seseorang menjadi begitu negatif adalah stres, sehingga mengalami sindrom yang membuat dirinya selalu merasa kurang puas dan selalu merasa lebih kecil dibandingkan orang lain.
Rabu, 26 Desember 2018
CATATAN AKHIR TAHUN YANG SEMOGA TEREFLEKSIKAN
Peristiwa beri kita bahan ajar. Bahan yang kelak harus kita renungkan,
yang bahkan saat kita tak ingin, ia terus memaksa memori kita untuk
memutarnya berulang-ulang, hingga kita muak, hingga kita enggan. Kita
berhasil bertahan. Mereguk sedikit saja makna. Lantas kita berpuas diri.
Kita merasa paling berpengalaman.
Lalu, Tuhan hantam kita dengan
peristiwa lain. Lebih besar, lebih menyakitkan. Kita mengeluh. Merasa
hidup paling sengsara. Sementara, kita tak buta. Bahwa kita masih satu
level di bawah yang lain. Kita meminum air mentah, di sana menelan air
mentah bercampur limbah. Perut kita sakit. Mereka wafat. Lantas, kita
kembali dipaksa merenung. Hidup adalah renungan. Mengenai
apa-apa yang kita dapatkan dan tidak kita raih. Tentang apa yang
menendang hati kita hingga rasa sakit bersayang lebih banyak dari rasa
senang di kalbu masing-masing. Mengenai kepuasan dan kesenangan yang
luput kita syukuri.
Rabu, 16 Mei 2018
Jika dengan ibadah ritual semuanya selesai, di luar itu kita hanyalah ateis yang menempatkan ego dan pemikiran sendiri di atas segalanya.
Malam
ini, saya teringat tokoh Madrim yang diperankan oleh Aming dalam film layar
lebar garapan sutradara Hanung Bramantyo. Ia mengalami keputusasaan yang tak
berujung. Memohon, tidak lagi ia lakukan. Sudah lelah, tampaknya. Beberapa kali
harapnya kandas, kendati ia meminta dengan cara halus sampai cara yang lantang
sekali pun. Tibalah ia pada posisi di mana dirinya menganggap Tuhan takkan lagi
mengacuhkannya. Maka, dengan niat menggebu-gebu, dirinya menciptakan sebuah
terobosan dengan harapan Tuhan hendak luluh. Ia menyisipkan ancaman dalam
doanya. Dirinya mengancam jika Tuhan masih enggan menjawab do’anya, ia akan
berpaling. Lantas, apa yang ia peroleh? Sesungguhnya ia tak mendapatkan apa
pun. Tuhan dengan Rahmat-Nya, mengizinkan ia terus mengancam sesuai yang
dirinya kehendaki. Kemudian, ia terombang-ambing dan tersesat.
Sejujurnya,
saya pernah berada dalam posisi Madrim. Di mana Tuhan tak coba mencegah saat
saya berbuat khilaf kendati setiap malam saya berdoa dengan air mata berurai.
Doa saya hanyalah satu, “Ihdinasshiraathal mustaqiim. Tunjukanlah kami
jalan yang lurus.” Saya hanya ingin satu langkah lebih dekat dengan-Nya. Namun,
doa-doa saya seakan menguap tak jelas arahnya. Saya berbuat khilaf, Tuhan
biarkan. Saya berdosa, Tuhan tak beri peringatan. Saya merasa putus asa sampai
saya berada pada titik di mana saya teramat marah pada Tuhan.
Kamis, 03 Mei 2018
Laiknya Perempuan Loftus Road, Saya tidak Mudah Sedih oleh Hal-hal Rumit, tetapi Saya Terluka oleh Hal-hal Sederhana. Semisal, Kelakar Berlebih.
Bernard Batubara pernah menulis sebuah kisah pendek mengenai para perempuan yang telah mati sebagai manusia, tetapi tetap hidup sebagai pepohonan, berdiri dengan tabah di sepanjang Loftus Road yang dingin.
Sebentar, bukan perihal reinkarnasi perempuan Loftus Road yang ingin saya bahas. Terlalu kelam, karena semakin mereka berusaha memeluk harapan, semakin banyak daun-daun mengering dan bertanggalan dari ranting-ranting mereka sendiri. Tinggalah mereka yang gigil dan malang.
Saya ingat dengan jelas kalimat yang diucapkan salah seorang perempuan Loftus Road. Bahwa dirinya tak mudah sedih oleh hal-hal rumit, tetapi mudah terluka oleh hal sederhana. Semisal, dilupakan.
Saya tampak demikian. Terluka oleh hal sederhana, meski bukan dilupakan. Pagi lalu, saya menangis satu jam penuh di dalam kamar mandi hanya karena sebuah kelakar. Sesederhana itu alasan saya. Tentunya, menangis secara diam-diam.
Langganan:
Komentar (Atom)