Rabu, 29 April 2020

"Meninggalkan Nadia" Memberikan Kesadaran tentang Menghargai Eksistensi Orang Lain

"Stay safe ya, Ta," bunyi sebuah pesan yang saya terima di tengah kecemasan menjelang diresmikannya PSBB di kabupaten saya tinggal. Nadia yang mengirimnya, bersamaan dengan pesan lain yang memberitahukan bahwa dirinya harus memperpanjang masa karantina mandiri sehingga jadwal saya untuk menemuinya guna mengambil buku yang saya titip di BBW sedikit tertunda. Saya senang, Nadia mengirim pesan tersebut.

Selama ini, saya berkoar-koar, membeberkan pengalaman ketidakadilan yang saya terima karena menjadi korban perundungan saat sekolah tanpa bercermin pada apa yang sudah saya lakukan terhadap Nadia.

Minggu, 21 Juli 2019

Uang Tidak Salah

Pagi ini, saya mengantar tetangga saya berbelanja ke pasar tradisional. Tetangga saya adalah ibu dari dua anak perempuan dan nenek dari empat cucu kesayangannya. Saya memanggil beliau Ibu, meski kadang-kadang dirinya memprotes, "Sebat wae Emak." dan tentu saja, tak saya hiraukan. Ibu adalah sosok yang senang bercerita dan gemar memberi. Saat Ramadan, beliau merupakan satu-satunya orang yang akan berteriak dari luar rumah, memanggil nama saya sepuluh menit sebelum azan isya berkumandang. "Neng Deta, hayu taraweh!" Berkat Ibu, saya rajin berangkat ke masjid. Hehe.

Selasa, 02 Juli 2019

Ramadan yang usai dan ingatan-ingatan lain yang berlarian dalam kepala

Kala itu Ramadan hampir usai. Saya tidak pergi ke masjid untuk itikaf, tidak juga berusaha menamatkan bacaan Al-quran hingga mencapai surat ke-114. Jangan ditanya, ibadah ritual saya-seperti yang kau tahu-begitu lemah. Jangan kau tanya juga bagaimana ibadah sosial saya, karena sungguh sama lemahnya. Saya merasa sangat pilu karena rekan-rekan saya disibukkan dengan aktivitas sosial seakan sudah tidak peduli dengan masalah-masalah pribadi, sementara saya, dari waktu ke waktu masih saja disibukkan dengan kesedihan pribadi, merenungi nasib buruk pada diri sendiri, dan tenggelam dalam angan yang tidak pasti  Celaka, sungguh merugi diri saya ini. Saya berulang kali membuat daftar resolusi, berulang kali pula saya mematahkannya. Kadang kala, saya membenci diri saya sendiri. Saya abai terhadap hal-hal sederhana, sehingga tak terasa, mereka bergumul membuat destruksi besar dalam hidup saya. Hal ini pula yang sempat dikatakan oleh mantan kekasih saya, dulu kala sebelum masehi. Selaras. Egois. Tidak memperhatikan hal-hal kecil, dan tak acuh. Ahhhh ... Tak tahu saja ia sebagaimana besarnya usaha saya. Ya Tuhan ... Saya meracau terlalu banyak di paragraf pembuka. Maafkan.

Sabtu, 12 Januari 2019

A SOLEMN NEGAHOLIC LEADS US TO FEEL A CHRONIC PAIN


Kemarin, di sela-sela jam kerja, saya menyempatkan diri membaca sebuah artikel pada tabloid Intisari edisi 2016 (No. 651). Judulnya menarik, "Hindari Hidup Negatif ala Negaholic".Menurut artikel tersebut, istilah negaholic pertama kali dicetuskan oleh dr. Cherie Charter-Scott, seorang pakar perubahan perilaku yang berasal dari Nevada, AS. Negaholic sendiri berarti sikap, pikiran, cara pandang, perilaku, bahkan isi hati negatif yang sifatnya melemahkan kecenderungan positif seseorang. Cherie menegaskan bahwa penyebab utama seseorang menjadi begitu negatif adalah stres, sehingga mengalami sindrom yang membuat dirinya selalu merasa kurang puas dan selalu merasa lebih kecil dibandingkan orang lain.

Rabu, 26 Desember 2018

CATATAN AKHIR TAHUN YANG SEMOGA TEREFLEKSIKAN

Peristiwa beri kita bahan ajar. Bahan yang kelak harus kita renungkan, yang bahkan saat kita tak ingin, ia terus memaksa memori kita untuk memutarnya berulang-ulang, hingga kita muak, hingga kita enggan. Kita berhasil bertahan. Mereguk sedikit saja makna. Lantas kita berpuas diri. Kita merasa paling berpengalaman.

Lalu, Tuhan hantam kita dengan peristiwa lain. Lebih besar, lebih menyakitkan. Kita mengeluh. Merasa hidup paling sengsara. Sementara, kita tak buta. Bahwa kita masih satu level di bawah yang lain. Kita meminum air mentah, di sana menelan air mentah bercampur limbah. Perut kita sakit. Mereka wafat. Lantas, kita kembali dipaksa merenung. Hidup adalah renungan. Mengenai apa-apa yang kita dapatkan dan tidak kita raih. Tentang apa yang menendang hati kita hingga rasa sakit bersayang lebih banyak dari rasa senang di kalbu masing-masing. Mengenai kepuasan dan kesenangan yang luput kita syukuri.